Apakah Anjing Bisa Mengendus COVID-19 (Coronavirus)? | Si Binatang
Home » Anjing » Apakah Anjing Bisa Mengendus COVID-19 (Coronavirus)?

Apakah Anjing Bisa Mengendus COVID-19 (Coronavirus)?

Indera penciuman anjing sangat sempurna. Kemampuan penciuman anjing telah membuat mereka dipekerjakan sebagai hewan pekerja dalam berbagai peran. Banyak institusi memperkerjakan anjing pengendus narkoba, anjing pelacak, dan bahkan anjing penyelamat air. Tapi beberapa kalangan mungkin tidak begitu terbiasa dengan penggunaan anjing sebagai anjing pendeteksi medis.

Anjing mengendus

via: mnn

Karena sektor ini masih dalam masa pertumbuhan relatif, dapat dimengerti mengapa Anda belum pernah mendengar tentang anjing yang digunakan dalam kapasitas ini. Namun karena indera penciumannya yang akut, para praktisi telah menemukan bukti bahwa anjing dapat mendeteksi penyakit tertentu seperti kanker.

Ketika wabah seperti pandemi COVID-19 alias coronavirus merebak di seluruh dunia, mengetahui apakah anjing dapat mendeteksi COVID-19 bisa jadi merupakan langkah besar dalam upaya melawan virus ini. Disalin dari AnimalWised, kita akan mempelajari apakah anjing dapat mengendus virus corona atau tidak untuk membantu kita menghadapi virus menular ini.

Indera penciuman anjing

Sensitivitas penciuman anjing jauh lebih akut daripada manusia. Ini telah ditunjukkan dalam berbagai penelitian yang mengamati kapasitas indera anjing. Indera penciuman adalah indera yang paling maju dari anjing, meskipun penglihatan anjing tidaklah istimewa. Misalnya, seekor anjing dapat melihat beberapa warna, tetapi tidak sebanyak yang kita bisa.

Satu percobaan menarik menunjukkan kemampuan penciuman anjing dengan anak kembar. Anjing-anjing dalam penelitian ini dapat mendeteksi antara kembar fraternal, tetapi tidak antara kembar identik karena memiliki DNA yang sama.

Baca Juga:  Apakah Anak Anjing Terlahir dalam Keadaan Tuli?

Berkat kemampuan luar biasa ini, anjing dapat melakukan berbagai tugas penciuman. Ini meliputi:

  • Menemukan truffle liar
  • Perburuan hewan
  • Deteksi obat-obatan
  • Deteksi bom
  • Penyelamatan di gunung dan laut

Yang jarang diketahui adalah fakta bahwa anjing dapat mendeteksi penyakit tertentu pada manusia. Penting untuk menunjukkan ada banyak faktor dan masalah yang berbeda mengenai praktik ini. Sebagai contoh, mungkin saja anjing hanya dapat mendeteksi suatu penyakit begitu berada pada tahap tertentu.

Meskipun ada beberapa ras anjing yang dianggap memiliki kemampuan khusus dalam hal penciuman, seperti anjing pemburu, semua anjing yang sehat memiliki kemampuan penciuman kuat. Ini karena hidung mereka memiliki lebih dari 200 juta sel reseptor bau. Sebagai perbandingan, manusia hanya memiliki sekitar 5 juta.

Selain itu, pusat penciuman otak anjing sangat berkembang dan rongga hidungnya penuh dengan saraf. Sebagian besar otak mereka didedikasikan untuk mendeteksi bau. Ini lebih baik daripada sensor bau buatan yang diciptakan oleh manusia. Untuk semua alasan ini, mungkin tidak mengejutkan bila ada beberapa akademisi yang telah meneliti apakah mungkin bagi anjing untuk mendeteksi novel coronavirus (COVID-19).

Bagaimana anjing mendeteksi penyakit?

Gambar anjing

via: Citrus-O

Indera penciuman anjing sangat tajam sehingga memungkinkan mereka mendeteksi penyakit pada manusia. Tentu saja, ini membutuhkan pelatihan sebelumnya. Seekor anjing tidak akan begitu saja memperingatkan manusia tentang adanya penyakit. Mereka perlu dilatih untuk melakukannya, tetapi pada dasarnya kemampuan penciuman bawaan mereka bisa dimanfaatkan. Seiring kemajuan dalam dunia kedokteran, telah ditunjukkan bahwa anjing dapat mendeteksi patologi pada manusia seperti:

  • Kanker prostat
  • Kanker usus
  • Kanker ovarium
  • Kanker usus besar
  • Kanker paru-paru
  • Kanker payudara
  • Diabetes
  • Malaria
  • Penyakit Parkinson
  • Epilepsi

Anjing mencapai prestasi ini dengan mendeteksi bahan kimia organik volatil (VOC) tertentu yang dihasilkan oleh penyakit tertentu. Dengan kata lain, setiap penyakit memiliki aroma khasnya sendiri yang dapat ditemukan anjing. Bahkan mungkin bagi anjing untuk mendeteksi penyakit pada tahap yang sangat dini, yang mana tes medis lain tidak dapat melakukannya. Akurasi deteksi semacam itu sangat tinggi. Sebagai contoh, seekor anjing mampu mendeteksi perubahan kadar glukosa hingga 20 menit sebelum ada perubahan yang terdeteksi dalam darah mereka.

Deteksi dini sangat penting dalam meningkatkan prognosis penyakit seperti kanker, selain mengantisipasi kenaikan kadar glukosa darah pada penderita diabetes atau mendeteksi timbulnya kejang epilepsi. Ini dapat menandakan peningkatan besar dalam kualitas hidup orang-orang yang dipengaruhi oleh kondisi medis tertentu. Selain itu, ini membantu para peneliti dalam mengidentifikasi biomarker untuk membantu meningkatkan sistem diagnostik lainnya.

Konsep dasarnya adalah bahwa anjing diajarkan untuk mencari karakteristik senyawa kimia (VOC) tertentu dari penyakit tertentu. Untuk melakukannya, mereka diberi sampel tinja, air liur, darah, atau bahkan jaringan untuk mengenali baunya. Mereka kemudian dapat memperingatkan teknisi ketika mereka merasakan ada aroma yang sama pada pasien. Mereka bahkan dapat diajari untuk duduk atau berdiri jika bau itu ada atau tidak.

Ketika anjing bekerja dengan seorang pasien, mereka dapat memberitahukan keberadaan VOC dengan menyentuh mereka dengan kakinya. Pelatihan dalam disiplin ini berlangsung beberapa bulan dan intensif. Itu hanya harus dilakukan oleh para profesional. Sebagai pengganti informasi ini, tidak mengherankan para peneliti dalam deteksi COVID-19 mempertimbangkannya sebagai opsi yang memungkinkan.

Bisakah anjing mendeteksi coronavirus?

Setelah bertahun-tahun penelitian dalam mendeteksi penyakit, tidak mengherankan untuk mengetahui bahwa ilmu pengetahuan menunjukkan anjing dapat mendeteksi coronavirus. Sementara hasil konklusif belum dikonfirmasi, tes pendahuluan mengarah ke penilaian positif.

Satu tes semacam itu di University of Helsinki telah menunjukkan hasil positif dalam membedakan antara urin pasien COVID-19 dan mereka yang tidak memilikinya. Peneliti yang sama menyimpulkan anjing mampu mendeteksi penyakit lebih cepat dan dengan sensitivitas lebih dari tes yang diajukan lainnya.

Tes positif dengan proyek DogRisk

Kelompok yang mengendalikan penelitian ini dikenal sebagai DogRisk dan mereka adalah satu-satunya yang mampu mengidentifikasi sampel urin. Mereka saat ini dalam tahap mengumpulkan lebih banyak sampel untuk melatih lebih banyak anjing. Setelah waktu ini, mereka diharapkan dapat menentukan berapa lama VOC bertahan setelah infeksi berakhir. Selain itu, mereka telah memeriksa sensitivitas anjing dengan memberikan sampel yang tidak memiliki coronavirus, tetapi yang memiliki penyakit pernapasan serupa.

Anjing Super Six: pelatihan dalam proses

Di Inggris, ada tim anjing yang sedang dilatih untuk mendeteksi COVID-19. Tim ini terdiri atas enam anjing dan dinamai Super Six. Tiga anjing adalah Cocker Spaniel (bernama Norman, Jasper, dan Asher), Labrador Retriever bernama Star, campuran Golden Retriever bernama Storm, dan seekor Labradoodle bernama Digby. Semua anjing itu berusia antara 20 bulan hingga 5 tahun.

Tujuan dari Super Six adalah untuk mendeteksi bau virus dalam waktu kurang dari sedetik dengan pasien yang bergejala dan tidak bergejala. Jika berhasil, diagnosa cepat dan non-invasif dapat dilakukan. Sampel dikumpulkan dari nafas dan keringat orang yang terkena dampak. Organisasi Medical Detection Dogs memimpin proyek ini bersama dengan Universitas Durham. Mereka berharap dapat menyelesaikan pelatihan dalam 6 hingga 8 minggu sehingga mereka dapat mulai bekerja secara langsung dengan orang-orang. Harapannya adalah mereka akan dapat mencium udara di sekitar mereka untuk menentukan diagnosis.

Selain tim-tim ini, anjing juga dipersiapkan di Amerika Serikat. Di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Pennsylvania, mereka bekerja dengan tim yang terdiri atas delapan anjing. Mereka diharapkan siap dalam hitungan minggu. Selain itu, berbagai organisasi di Spanyol dan bagian lain dunia juga mempertimbangkan opsi melatih anjing untuk mendeteksi COVID-19.

Komentar