Jenis-jenis Hewan yang Hidup dalam Kondisi Paling Ekstrim di Bumi | Si Binatang
Home » Fakta Binatang » Jenis-jenis Hewan yang Hidup dalam Kondisi Paling Ekstrim di Bumi

Jenis-jenis Hewan yang Hidup dalam Kondisi Paling Ekstrim di Bumi

Planet kita penuh dengan organisme dan hewan luar biasa, yang mampu hidup dalam kondisi paling ekstrem. Organisme yang hidup di lingkungan ekstrem juga disebut sebagai ekstremofil dan ini mencakup bakteri, Archaea, dan Eukarya. Teruslah membaca artikel kami untuk mengetahui lebih lanjut tentang hewan dan organisme yang hidup di lingkungan ekstrem, termasuk fakta unik dan karakteristiknya!

Semut Sahara

Contoh ekstremofil

Tahukah Anda bahwa bakteri adalah organisme pertama yang menghuni planet bumi? Bakteri bahkan sudah ada ketika tidak ada atmosfer yang melindungi mereka dari sinar UV serta tidak ada pengaturan suhu bumi. Selama waktu inilah banyak spesies harus beradaptasi untuk bertahan hidup dalam kondisi ekstrim ini.

Jenis ekstremofil

Menurut klasifikasi sistem lima kerajaan, bakteri adalah organisme prokariotik uniseluler yang termasuk dalam kerajaan Monera. Bakteri dapat hidup pada suhu yang sangat panas dan tumbuh optimal pada suhu 45 °C, tetapi juga dapat bertahan pada suhu di atas 100 °C. Bakteri ini hidup di dalam geyser atau di ventilasi hidrotermal di dasar laut.

Ekstremofil mencakup tiga domain kehidupan, yaitu bakteri, archaea, dan eukarya. Selain mikroba yang telah disebutkan di lingkungan ekstrem, ekstremofil ini juga mencakup eukariota seperti Protista.

Bagaimana Archaea bertahan di lingkungan yang ekstrim?

Archaea

Adaptasi ekstremofil ke lingkungan ekstrem (khususnya archea) sangat menarik. Di antaranya kita dapat menemukan bakteri psikrofilik, yang lebih menyukai suhu di bawah nol, ditemukan di lingkungan seperti Antartika. Ada bakteri asidofilik yang tumbuh subur dalam kondisi sangat asam yang menghuni tanah, air vulkanik, dan / atau cairan lambung hewan. Dan terakhir, ada bakteri alkalifilik yang tumbuh subur pada lingkungan pH normal yang tidak melebihi pH 13, menghuni tanah dan perairan yang asin.

Baca terus untuk mengetahui lebih banyak lagi tentang adaptasi ekstremofil dan hewan yang hidup di lingkungan ekstrem.

Hewan yang mampu bertahan dalam kondisi ekstrim

Ada beberapa hewan yang hidup dalam cuaca sangat panas yang tidak berdampak buruk bagi mereka, tetapi bagaimana caranya? Cacing Pompeii (Alvinella pompejana), misalnya, mendiami lubang hidrotermal lautan kita. Hewan ini mampu bertahan hidup pada suhu di atas 80 °C, terutama berkat simbiosisnya dengan bakteri yang hidup di kulitnya, yang melindunginya.

Cacing Pompeii

Hewan luar biasa tangguh lainnya adalah Semut Gurun Sahara (Cataglyphis bicolor). Semut ini adalah satu-satunya dari semua spesies semut yang mampu bertahan hidup pada suhu yang melebihi 45 °C.

Sama seperti hewan yang tahan terhadap panas, hal yang sama berlaku untuk lingkungan dingin yang membekukan. Jadi hewan apa yang bisa bertahan pada suhu terdingin? Katak kayu (Lithobates sylvaticus) mampu membeku pada suhu di bawah -18 °C, sebelum hidup kembali beberapa bulan kemudian. Kemampuan yang berbeda ini dicapai terutama berkat akumulasi glukosa di jaringan mereka. Glukosa ini berfungsi sebagai krioprotektan, mencegah kerusakan jaringan yang biasanya disebabkan oleh pembekuan.

Katak kayu

Kumbang kulit kayu pipih (Cucujus clavipes puniceus) adalah organisme lain yang dapat menahan suhu beku. Dalam hal ini, makhluk ini dapat bertahan hidup di lingkungan dengan suhu -58 °C. Kelangsungan hidup ini dimungkinkan karena akumulasi protein dan alkohol dalam tubuh yang bertindak sebagai antibeku. Antibeku ini menghasilkan pengurangan air dalam tubuh, memaksa konsentrasi protein ini.

Hebatnya lagi, larva kumbang kulit kayu pipih dapat bertahan hidup pada suhu di bawah -150 °C tanpa pembekuan. Larva ini masuk ke dalam proses vitrifikasi ketika suhu turun di bawah -50 °C, memungkinkan mereka untuk bertahan hidup.

Hewan yang hidup dalam kelembaban ekstrim

Selain organisme yang dapat hidup dalam panas atau dingin yang ekstrim, kita juga memiliki banyak organisme yang mampu bertahan hidup dalam kelembapan yang ekstrim. Kecoak, misalnya, adalah hewan yang menyukai kelembapan serta suhu yang sangat hangat. Jika kelembapan relatif turun di bawah 20%, hewan ini mampu bertahan hidup. Jika kelembapan ini turun, kecoak dapat menurunkan laju pernapasannya untuk menghindari kekeringan tubuhnya.

Kecoak

Hewan yang hidup di hutan tropis juga telah beradaptasi dengan lingkungan yang sangat lembab, di mana kelembapan relatif dengan mudah melebihi 90%. Dalam kebanyakan kasus, hewan lain dalam kondisi ini akan mati karena perkembangbiakan jamur.

Hewan yang bisa hidup tanpa air

Air sangat penting untuk kehidupan, tetapi tidak semua hewan perlu menenggaknya langsung untuk menghidrasi tubuhnya. Tahukah Anda bahwa tikus kanguru (Dipodomys sp.) tidak pernah minum air? Mereka dapat melakukan ini dengan bantuan dua mekanisme. Yang pertama adalah mereka menelan air dari makanan yang mereka makan. Selain itu, tubuh tikus kanguru bereaksi sedemikian rupa sehingga melepaskan metabolisme air, menjaganya tetap terhidrasi.

Jerboa

Unta (Camelus sp.) mengalami proses serupa. Unta mendapatkan air dari tumbuh-tumbuhan yang mereka telan. Selain itu, ketika unta mendapatkan air di oasis, mereka dapat menumpuknya dalam bentuk lemak di punuknya. Metode “penyimpanan” ini memungkinkan unta menyimpan air selama berbulan-bulan tanpa perlu benar-benar menenggaknya.

Secara umum, hewan yang menghuni gurun telah beradaptasi dengan kelangkaan air ini, masing-masing membawa mekanisme canggih untuk bertahan hidup tanpanya. Luar biasa ya!

Komentar